Bisphenol gigi, perangkat medis, dan produk perawatan pribadi.

Bisphenol A atau yang lebih dikenal dengan BPA merupakan
suatu bahan kimia sintetis yang digunakan sebagai monomer untuk pembuatan
plastik polikarbonat, dan juga sebagai intermediet dalam sintesis resin epoksi.
BPA adalah bahan kimia umum dengan salah satu volume produksi tertinggi di
seluruh dunia (Wang, 2016). Pada tahun 2013, kapasitas produksi tahunan global
BPA mencapai lebih dari 6,2 juta ton. Bahkan, volume konsumsi global BPA,
diperkirakan mencapai 7,7 juta metrik ton pada tahun 2015 (Industry Experts, 2016).
Di benua Asia sendiri, pemasaran BPA tumbuh pada angka rata-rata 13% per tahun,
dengan polikarbonat sebesar 19% (Jalal, 2017).

            BPA
secara luas dapat ditemukan dalam produk komersial yang berhubungan dengan
makanan, seperti wadah penyimpanan, kertas dan karton penyimpan makanan, kaleng
makanan, dan botol bayi. BPA juga digunakan dalam aplikasi kehidupan lainnya
termasuk kertas termal, penambal gigi, perangkat medis, dan produk perawatan
pribadi. Pelepasan BPA juga terjadi saat polikarbonat dan wadah berisi resin
epoksi, kertas termal, dan penambal gigi digunakan dalam kondisi normal, dan
juga di bawah kondisi panas, penggunaan ulang, dan kondisi lainnya yang tidak
netral. Manusia memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk terpapar BPA secara
langsung. Diantaranya adalah paparan BPA dari wadah minuman plastik dan dari
air liur pasien yang menerima penambalan gigi (Olea, 1996).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Pada
sisi lain, BPA memiliki karakteristik sebagai endocrine disruptor sehingga mampu menghilangkan fungsi kelenjar endokrin
dengan cara meniru atau menghambat hormon endogen yang ada pada tubuh. BPA meniru
aksi estradiol dengan merangsang pelepasan prolaktin secara in vivo dan in
vitro (Steinmetz, 1998). Dalam tubuh, BPA bisa membentuk ROS (Reactive Oxygen Species) atau spesies
oksigen reaktif yang dapat berinteraksi dengan DNA dan dapat menimbulkan
kerusakan pada DNA yang berakibat pada kanker (Bindhumol, 2003).

            Selain
itu, logam berat dapat berkontribusi terhadap pembentukan ROS pada manusia,
salah satunya adalah nikel (II). Dimana logam nikel (II) ini dapat bersumber
dari emisi vulkanik, batu bara, dan asap rokok (US EPA, 2000). Ni (II) bersifat
toksik dan bersifat karsinogenik pada hewan dan manusia (Kasprzak, 2002) dan
telah diklasifikasikan oleh International
Agency for Research on Cancer (IARC) sebagai karsinogen pada manusia (IARC,
1990). Hal tersebut dapat terjadi karena ion nikel (II) juga memiliki kemampuan
dalam membentuk radikal hidroksi melalui reaksi Fenton-like (Lloyd, 1998).

            Kerusakan
DNA yang terjadi karena adanya peningkatan stres oksidatif dapat memicu
karsinogenesis (Frenkel, 1992). Namun, DNA dapat mengalami perbaikan (DNA Repair) dimana akan terbentuk hasil
perbaikan DNA tersebut dalam bentuk DNA Adduct
pada darah maupun urin. 8-hidroksi-2’deoksiguanosin (8-OHdG) merupakan
salah satu adduct yang berasal dari
serangan radikal hidroksil residu deoksiguanosin dan telah umum sebagai
biomarker kerusakan oksidatif pada DNA (Guo, 2016). Dengan adanya deteksi
8-OHdG ini, kanker dapat dideteksi lebih dini sehingga risikonya pun dapat
lebih diminimalisasi.

            Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pembentukan 8-OHdG yang merupakan indikator kerusakan
DNA akibat paparan bahan kimia BPA dan logam Nikel (II). Pembentukan 8-OHdG dianalisis
secara in vivo pada tikus
Galur Sprague-Dawley dan in vitro
melalui reaksi fenton-like menggunakan
DNA Calf-Thymus yang direaksikan
dengan BPA dan Ni (II) dengan variasi pH dan suhu untuk melihat pembentukan
8-OHdG sebagai pembuktian paparan zat-zat tersebut yang dapat mengakibatkan
kerusakan DNA

x

Hi!
I'm Gerard!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out